KOMITMEN MUSLIM TERHADAP ISLAM
BAB SATU
APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM
Pengakuan sebagai seorang Muslim bukanlah klaim terhadap
pewarisan,bukan klaim terhadap suatu identitas,juga bukan klaim thd suatu
penampilan lahir, melainkan pengakuan untuk menjadi penganut Islam, berkomitmen
kepada Islam dan beradaptasi dengan Islam dalam setiap aspek kehidupan.
Adapun karakter yang harus dimiliki agar menjadi seorang Muslim sejati adalah sebagai berikut :
Pertama: Saya harus mengIslamkan akidah saya
Adapun karakter yang harus dimiliki agar menjadi seorang Muslim sejati adalah sebagai berikut :
Pertama: Saya harus mengIslamkan akidah saya
Akidah seorang Muslim adalah akidah yang benar dan
shahih,selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-quran dan sunnah Rasulullah
Saw.Untuk mengIslamkan akidah saya,maka konsekuensinya adalah sebagai berikut:
- Saya
harus meyakini bahwa penciptaan alam ini adalah Allah yang hakim (maha
bijaksana),Qadir (Maha kuasa), ’Alim (maha tahu) dan Qayum (selalu
mengurusi mahluknya). (QS. Al Anbiya : 22)
- Saya
harus mengimani bahwa Al-khaliq (Sang maha pencipta) tidak menciptakan
alam ini secara sia-sia, karena tidak mungkin terjadi Dzat yang menyandang
sifat kesempurnaan itu berbuat sia-sia dalam apa yang diciptakan-Nya (QS.
Al Mu’minun : 115-116)
- Saya
harus meyakini bahwa Allah Swt telah mengutus para rasul dan menurunkan
kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia,
tujuan penciptaan mereka, awal kejadian mereka dan tempat kembali mereka. (QS.
An Nahl : 36)
- Saya
harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah
Swt. (QS. Adz Dzariyat : 56-58)
- Saya
harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah syurga
sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka. (QS. Asy
syura : 7)
- Saya
harus meyakini bahwa manusia melaksanakan kebajikan dan kejahatan dengan
ikhtiar dan kehendaknya, akan tetapi ia tidak bisa melaksanakan kebaikan
kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah (QS. Asy Syams : 7-10)
- Saya
harus meyakini bahwa menetapkan syariat merupakan hak Allah yang tidak
boleh dilanggar. (QS. Asy Syuro : 10)
- Saya
harus mengetahui nama-nama dan sifat Allah yang selaras dengan
keagungan-Nya.
- Saya
harus bertafakur (merenungkan) mengenai ciptaan Allah,bukan mengenai
Dzat-Nya. Sifat-sifat Allah telah banyak diisyaratkan oleh ayat Alquranul
karim dan merupakan sifat-sifat yang dituntut oleh kesempurnaan uluhiyah
(ketuhanan).
- Saya
harus meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti,
khususnya dalam persoalan takwil dan ta’thil serta menyerahkan pengetahuan
mengenai makna-makna kepada Allah Swt.
- Saya
harus beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu
apapun. (QS. An Nahl : 36)
- Saya
takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya (QS. An
Nur : 52, Al Mulk : 12)
- Saya
harus mengingatNya dan senantiasa mengingatNya (QS. Ar Ra’d : 28)
- Saya
harus mencintai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hatiku senantiasa
merindukan keagunganNya, terlambat kepadaNya sehingga mendorongku untuk
senantiasa menambah kebaikan,berkorban dan berjihad dijalan-Nya
selama-lamanya. (QS. At Taubah : 24)
- Saya
harus bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri
kepadaNya dalam segala urusan (QS. Ath Thalaq : 3)
- Saya
harus bersyukur kepada Allah Swt atas segala nikmatNya yang tak terhingga
serta segala karunia dan rahmatNya yang tidak terhitung. (QS.
An Nahl : 78)
- Saya
harus beristigfar memohon ampunan Allah secara kontinu (QS. An
nisa : 110)
- Saya
harus menyadari muraqabah (pengawasan) Allah Swt. Baik dalam keadaan
sendiri maupun berada di tengah-tengah manusia (QS. Al
Mujadilah : 7)
Kedua:
Saya harus mengIslamkan ibadah saya
Dalam Islam, ibadah adalah puncak
ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang
disembah). (QS. Dzariyat : 56, Al An’am : 162). Ia merupakan tangga yang
menghubungkan mahluk dengan Khaliq.Ia juga memilki pengaruh-pengaruh yang
mendalam dalam interaksi antar sesama hamba Allah. Untuk mengIslamkan
ibadahku,maka konsekuensinya adalah sebagai berikut:
1. Ibadahku harus “hidup” dan
“tersambung” kepada ma’bud (Tuhan yang dibadahi). Inilah derajat Ihsan dalam
beribadah. Rasulullah Saw pernah ditanya mengenai ihsan, maka beliau menjawab,
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya, jika kamu
tidak bisa (seakan-akan) melihatnya, maka (sadarilah) bahwa Ia melihatmu”.
2. Ibadahku harus khusyuk,sehingga saya
bisa menghayati kehangatan komunikasi dengan Allah dan nikmatnya kekhusyukan.
3. Dalam beribadah, hati saya harus
hadir (sepenuh hati), melepaskan pikiran dari sekelilingku, yaitu segala
kesibukan dan keinginan duniawi.
4. Dalam beribadah, saya harus tamak, tidak
pernah puas dan rakus, tidak pernah kenyang.
5. Saya harus memilki keinginan yang
besar untuk melaksanakan Qiyamulail (shalat malam) serta melatih diri untuk
melaksanakannya sampai terbiasa, karena Qiyamulail merupakan salah satu ”mesin
keimanan” yang paling besar (QS. Al Muzzammil : 6)
6. Hendaklah saya menyediakan waktu
untuk membaca dan merenungkan Alquranul karim khususnya pada waktu fajar (QS.
Al Isra : 78)
7. Doa harus menjadi tangga bagiku untuk
memohon kepada Allah dalam setiap keadaan (Ghofir : 60)
Ketiga: Saya harus mengIslamkan ahlak saya
Berakhlak mulia merupakan tujuan pokok
dari risalah Islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah Saw. Dalam
sebuah haditsnya,”Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk meyempurnakan ahlak
yang mulia”. Akhlak mulia merupakan bukti dan buah keimanan. Keimanan tidak ada
nilainya tanpa akhlak. Diantara sifat-sifat yang seyogianya terdapat pada
seseorang agar ia berakhlak Islami adalah sebagai berikut :
- Bersikaplah
wara’ (hati-hati) terhadap syubhat. Hendaklah manusia berhati-hati terhadap
hal-hal yang diharamkan dan segala syubhat. Sikap wara' yang paling tinggi
tingkatannya adalah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. Dalam
hadits beliau, “Tidaklah seorang hamba mencapai derajat orang yang
bertaqwa sampai ia meninggalkan apa yang tidak haram karena berhati-hati
terhadap apa yang haram”.
- Menahan
pandangan. Hendaklah ia menahan pandangannya dari segala yang diharamkan
oleh Allah, karena pandangan itu menimbulkan keinginan dan secara bertahap
akan membawa pelakunya untuk melakukan dosa dan kemaksiatan.
- Menjaga
lidah. Hendaklah ia menjaga lidahnya dari berbicara yang berlebihan, kata-kata
kotor, kalimat-kalimat yang kasar, pembicaraan yang sia-sia, bergunjing
dan mengadu domba.
- Malu
(Haya’). Hendaklah ia menjadi seorang yang pemalu dalam segala
keadaan,namun sifat pemalunya ini jangan sampai menghalanginya untuk
berani dalam kebenaran.
- Pemaaf
dan sabar. Salah satu sifat paling menonjol yang harus terdapat pada diri
seorang muslim adalah sifat pemaaf dan sabar.
”Barangsiapa bersabar dan memaafkan,sesungguhnya
(perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.
- Jujur.
Ia harus jujur, tidak berdusta, mengatakan yang benar walaupun terhadap
diri sendiri, tanpa merasa takut akan celaan orang yang mencela demi
mendapat ridha Allah
- Rendah
hati. Ia harus bersikap rendah hati, khususnya terhadap saudara-saudaranya
sesama muslim, tanpa membeda-bedakan dalam sikap tersebut antara yang kaya
dan yang miskin.
- Menjauhi
prasangka, ghibah dan mencari cela sesama muslim.
- Dermawan
dan pemurah. Hendaklah ia menjadi seorang yang dermawan dan murah hati, siap
mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah.
- Menjadi
teladan yang baik.
Keempat: Saya harus mengIslamkan keluarga dan rumah tangga saya
Pengakuan sebagai seorang Muslim harus
menjadikan saya sebagai pemilik risalah Islam ini dalam seluruh
kehidupan.Bahkan saya harus menjadikan seluruh hidup dikendalikan sesuai dengan
ajaran risalah Islam ini. Saya harus membawa risalah Islam kepada “masyarakat
kecilku”; kepada keluargaku, kepada istriku, kepada anak-anakku, kemudian
kerabat dekat, kemudian yang terdekat. Itulah jalan yang ditempuh oleh
Rasulullah Saw pada saat memulai dakwah.
1. Tanggung jawab pernikahan.
1. Tanggung jawab pernikahan.
§ Pernikahan
harus saya lakukan semata-mata karena Allah.
§ Hendaklah
salah satu tujuan pernikahanku adalah menahan pandangan,memelihara kemaluan dan
bertaqwa kepada Allah, Rabbku.
§ Saya
harus memilih istri, pendamping hidup dan teman perjalanan dengan
sebaik-baiknya.
§ Saya
harus memilih wanita yang berahlak dan beragama,sekalipun lebih rendah
dibandingkan wanita lain dalam hal harta dan kecantikan.
§ Saya
harus berhati-hati jangan sampai melanggar perintah Allah dalam hal pernikahan
dan takut kepada murka dan hukuman-Nya.
2. Tanggung jawab pascapernikahan.
§ Saya
harus bersikap baik dan menghargainya,agar tumbuh kepercayaan antara saya dan
dia.
§ Jangan
sampai hubungan dengan istriku sebatas hubungan ranjang dan nafsu semata.
§ Hubungan
dengan istriku baik dalam hal-hal yg telah disebutkan maupun yang belum
disebutkan harus mengikuti tuntunan syara’.
3. Tanggung jawab bersama dalam mendidik
anak.
Pada kenyataannya, kesuksesan
pernikahan, pemilihan istri yang shalehah, meleburnya suami-istri dalam wadah Islami;
ketiganya berperan besar dalam mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam
sebagaimana diharapkan. Pada hakikatnya, buah yang diharapkan dari terbentuknya
rumah tangga Muslim adalah memunculkan keturunan yang shaleh.
Kelima : Saya harus mengalahkan nafsu saya
Manusia senantiasa dalam pergulatan
melawan nafsunya,sehingga ia bisa mengalahkan nafsu atau nafsu itu yang
mengalahkannya.atau dengan kata lain, pertarungan itu akan tetap berlangsung
sampai ajal menjemputnya.
- Sifat-sifat manusia.
a. Ada tipe manusia yang dikalahkan oleh
nafsu mereka. Mereka cenderung kepada “Bumi” dan kehidupan dunia. Mereka adalah
orang-orang kafir dan siapa saja mengikuti jalan mereka seperti orang-orang
yang telah melupakan Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa diri.
b. Ada tipe orang-orang yang bersungguh-sungguh memerangi nafsunya dan melawan keinginannya. Kadang-kadang mereka menang, tetapi kadang-kadang kalah. Mereka kadang berbuat kesalahan, tetapi kemudian bertobat. Mereka kadang bermaksiat kepada Allah, namun lantas menyesal dan beristigfar.
b. Ada tipe orang-orang yang bersungguh-sungguh memerangi nafsunya dan melawan keinginannya. Kadang-kadang mereka menang, tetapi kadang-kadang kalah. Mereka kadang berbuat kesalahan, tetapi kemudian bertobat. Mereka kadang bermaksiat kepada Allah, namun lantas menyesal dan beristigfar.
2.
Perangkat-perangkat untuk memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu.
a. Hati. Selama hati dalam keadaan
hidup, lembut, jernih, kukuh dan bercahaya.
b. Akal. Selama akal memiliki bashirah (kebijaksanaan), berpengetahuan, mampu membedakan, dan mencari ilmu yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, serta mengetahui keagungan dan kekuasaan-Nya.
b. Akal. Selama akal memiliki bashirah (kebijaksanaan), berpengetahuan, mampu membedakan, dan mencari ilmu yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah, serta mengetahui keagungan dan kekuasaan-Nya.
3.
Indikasi-indikasi kekalahan akhlak.
Sesungguhnya, ketika hati manusia mati
atau mengeras, ketika akalnya padam atau meyimpang dan ia kalah dalam
peperangannya melawan setan, ketika itu banyak pintu kejahatan didalam dirinya
sendiri dan setan mengalir didalam diri anak adam sebagaimana aliran darah.
4.
Sarana-sarana untuk membentengi diri dari masuknya setan.
a. Sikap percaya dan menerima.
b. Takut datangnya kematian.
c. Menyadari akan hilangnya nikmat dan
keburukan hisab.
d. Mengingat karunia dan rasa takut
kepada akibat yang akan menimpa.
e. Mengenali hak dan kehormatan orang
lain.
f. Menerima dan rela dengan pembagian
yang diberikan oleh Allah Swt.
g. Ikhlas
h. Menyadari sirna(fana’)-nya semua yang
ada di tangan mahluk dan kekalnya pahala yang ada di sisi Allah.
i. Rendah hati
j. Percaya kepada Allah dan zuhud
terhadap apa yang menjadi milik manusia.
Keenam :
Saya harus yakin bahwa hari esok milik Islam
Saya harus yakin bahwa hari esok adalah
milik Islam dan Islam harus menjadi satu-satunya manhaj yang dapat memimpin dan
membimbing manusia ke jalan yang benar. Kita juga harus yakin bahwa produk
manusia memiliki kekurangan, dan hanya Islam yang mampu mengatur seluruh aspek
kehidupan sehingga Islam harus menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam
merupakan manhaj yang tunggal, integral, mondial, fleksibel, dan robbaniyah
sehingga Islam akan mampu mengatur kehidupan umat manusia. Keyakinan saya
didorong oleh beberapa hal :
- Rabbaniyah
Manhaj Islam. Manhaj Islam yang bercorak ketuhanan adalah suatu sibghah
(konsep agama) yang menjadikannya terdepan dibandingkan dengan seluruh
sistem positif produk manusia dan memiliki spesifikasi unik untuk tetap
bertahan dan memberikan manfaat di setiap zaman, tempat, dan di kawasan
manapun.
- Universalitas
manhaj Islam. Merupakan perwujudan warna humanisme, konkretisasi dari
warna keterbukaan dan kemampuan untuk memikul tanggungjawab keterbukaan
ini. Warna ini menjadikannya meninggalkan sentimen sempit terhadap ras,
nasionalisme, gender, atau keturunan.
- Elastisitas
Manhaj Islam. Yaitu warna yang memberinya kemampuan untuk menampung segala
problema kehidupan yang berubah-ubah, bervariasi, dan bermacam-macam.
Warna yang melapangkan tempat untuk berijtihad dalam menyimpulkan
hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang tidak ada nashnya,
melalui metode qiyas atau mempertimbangkan mashlahah mursalah, istihsan,
dan argumen lain yang diakui syara’.
- Kelengkapan
manhaj Islam. Yaitu warna yang membedakannya dari sistem “bumi” serta
tatanan-tatanan buatan lainnya yang memiliki tujuan terbatas. Manhaj Islam
adalah sistem yang diberikan oleh Al-’Alim dan Al=Khabir, yaitu Allah
(SWT) Yang Mahatahu segala urusan manusia, apa saja yang dibutuhkan
manusia, apa saja yang merupakan maslahat manusia, dan sebagainya.
- Keterbatasan
Sistem-sistem “wadh’iyah” (buatan manusia). Sistem buatan manusia memiliki
banyak keterbatasan dalam tataran aplikatifnya.
BAB DUA
APA ARTINYA SAYA BERAFILIASI TERHADAP GERAKAN ISLAM?
APA ARTINYA SAYA BERAFILIASI TERHADAP GERAKAN ISLAM?
Dasar untuk mengaku sebagai aktivis pergerakan Islam adalah hendaknya pada diri seseorang telah terwujud semua sifat dan karakteristik pengakuannya sebagai Muslim. Inilah yang menjadikan pergerakan Islam memberikan perhatian terhadap kaderisasi, agar muncul individu Muslim yang benar keIslamannya, sebelum menyiapkannya sebagai aktivis pergerakan. Karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim agar pengakuan keIslamannya benar, sebagai berikut:
Pertama, Saya harus hidup untuk Islam
Manusia terbagi menjadi tiga golongan:
- Golongan
yang hidup untuk dunia. Kaum materialis. Oleh Al-Qur’an, mereka disebut
sebagai “dahriyin”. Lenin, salah seorang tokoh Komunis Rusia, pernah
mengomentari pendapat seorang filosof seperti ini, “Sesungguhnya, alam
semesta ini tidak prenah diciptakan oleh Tuhan atau manusia. Ia telah ada
sejak semula dan akan tetap ada. Ia akan menjadi obor yang hidup abadi, ia
akan hidup dan padam mengikuti hukum-hukum tertentu.”
- Golongan
yang tercampakkan di antara dunia dan akhirat. Mereka merupakan kebanyakan
manusia yang goyah keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam
kehidupan dunia ini, akan tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah
berbuat kebaikan. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang percaya kepada
Allah dan hari akhir, tetapi keyakinan mereka ini sekedar formalitas yang
terpisah secara total dari keadaan nyata mereka.
- Golongan
yang menganggap dunia sebagai lahan bagi kehidupan akhirat. Mereka
itulah orang-orang mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat
kehidupan ini, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibangdingkan dengan
akhirat.
Bagaimana
saya hidup untuk Islam?
Agar hidup saya diarahkan di jalan Islam
dan untuk Islam, maka saya harus mengetahui dan memegang teguh sejumlah
perkara, di antaranya:
• Mengetahui tujuan hidup.
• Mengetahui nilai-nilai dunia
dibandingkan dengan akhirat.
• Menyadari bahwa kematian pasti datang
dan mengambil pelajaran darinya.
• Mengetahui hakikat Islam. Caranya
adalah dengan memperdalam, mempelajari dan memahami prinsip-prinsip,
hokum-hukum, hal-hal yang dihalalkan dan hal-hal yang diharamkan.
• Mengetahui hakikat jahiliyah. Yaitu
dengan mengenali pemikiran-pemikiran, aliran-aliran, program-program,
cacat-cacat dan kekurangan-kekurangannya serta mengetahui bahaya-bahaya dan
mudarat-mudaranya agar bias menghindarkan diri darinya serta mempersiapkan
bekal yang diperlukan untuk melawan dan memeranginya.
Karakteristik manusia yang hidup untuk Islam
antara lain:
o Teguh dalam melaksanakan ajaran-ajaran
Islam, sebab keimanan bukanlah sekedar angan-angan, melainkan sesuatu yang
diyakini di dalam hati, kemudian dibuktikan dengan perbuatan.
o Memilki kepedulian terhadap
kemashlahatan Islam.
o Bangga dengan kebenaran dan yakin
kepada Allah. Ini merupakan salah satu sifat orang-orang beriman.
o Senantiasa konsisten dalam
memperjuangkan Islam dan tolong-menolong dengan para aktivis.
Kedua: Saya harus meyakini kewajiban memperjuangkan Islam
Memperjuangkan Islam adalah wajib dan
bukan sekedar sukarela. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sudut pandang:
- Kewajibannya sebagai prinsip.
Memperjuangkan Islam sebagai sebuah prinsip merupakan kewajiban, karena ia
merupakan letak bergantungnya pembebanan Allah terhadap seluruh manusia.
- Kewajibannya sebagai hukum.
Memperjuangkan Islam hukumnya wajib, karena lumpuhnya hakimiyah Allah
(usaha menjadikan Allah sebagai hakim) di bumi dan berkuasanya
tatanan-tatanan dan peraturan-peraturan positif produk manusia atas
masyarakat, mengharuskan kaum muslimin untuk mengakkkan masyarakat Islami,
merintis kehidupan Islami, menundukkan manusia kepada Allah dalam akidah,
akhlak, maupun tata kehidupan mereka.
- Kewajiban menegakkan Islam sebagai
kebutuhan darurat. Memperjuangkan Islam merupakan
kebutuhan darurat yang harus dilaksanakan dalam menghadapi
tantangan-tantangan zaman dan konspirasi musuh-musuh Islam guna
menghentukan gelombang materialisme dan gerak ateisme yang telah mengancam
dan mendongkel serta memusnahkan eksistensi Islam.
- Kewajiban secara individu dan
kolektif. Sesungguhnya tanggung jawab berjuang untuk Islam
merupakan kewajiban syar’i adalah termasuk dalam kategori kewajiban
individu. Barang siapa berjihad, sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya
sendiri. Sesungguhnya hal pertama yang menjadi kewajiban para aktivis Islam
adalah hendaknya sepenuhnya menyadari bahwa merekalah sebanar-benarnya
yang membutuhkan Islam dan bahwa mereka ketika berjuang dan berjihad
hakikatnya dilakukan dalam rangka membersihkan dirinya, menyucikan
jiwanya, melaksanakan sebagian hak Allah yang wajib mereka tunaikan dan
agar mereka bisa mengharapkan pahala dari Allah pada hari ketika
penglihatan tidak bisa tetap dalam melihat dan hati telah mentesak ke
tenggorokan.
Ketiga:
Pergerakkan Islam: misi, karakteristik dan perlengkapannya
- Misi
Pergerakan Islam. Yaitu menghambakan manusia kepada Allah Swt sebagai
pribadi maupun sebagai ,masyarakat dengan memperjuangkan tegaknya
masyarakat Islam yang mengambil hukum-hukum dan ajaran-ajaran dari
Al-Quran dan Sunah Rasul-Nya. Pergerakkan Islam adalah sebuah organisasi
internasional yang berkembang agar mewadahi seluruh aktivis di kancah
perjuangan Islam di setiap kawasan bumi.
Hendaknya di dalam umat ini dapat tegak:
• System pemerintahan internal
• System hubungan internasional
• Tatanan aplikatif dibidang kehakiman
• System pertahanan dan kemiliteran
• System perekonomian yang bersifat
mandiri
• System pendidikan dan pengajaran
• Tatanan individu
• Spirit umum yang mewarnai setiap
individu umat
2. Karakteristik dasar pergerakan Islam :
- Ia
merupakan pergerakan yang bercorak rabbaniyyah (ketuhanan). Ia mengambil
konsepsi, hukum-hukum, akhlak, tradisi-tradisi dan pemikiran-pemikiran
dari agama Allah yang abadi dan risalah-Nya yang terakhir.
- Ia
merupakan pergerakan independent. Ia merupakan pergerakkan yang muncul
dari realitas masyarakat Islam, bukan impor atau mengambil inspirasi dari
timur atau barat sebagaimana organisansi-organisasi dan lembaga-lembaga
lain.
- Ia
merupakan pergerakan yang progressif. Substansi keyakinan, peraturan dan
konsepsinya mengenai alam, manusia dan kehidupan lebih maju dan lebih
mampu untuk memecahkan problem-problem manusia dan kehidupan daripada
konsep-konsep produk manusia yang lemah terbatas.
- Ia
merupakan pergerakan komprehensif. Artinya, dakwah tidka sebatas bertujuan
memperbaiki salah satu dari aspek-aspek kehidupan ini tanpa lainnya. KeIslaman
bermakna kemumuman dan kelengkapan pergerakannya.
- Menjauhi
Perselisihan fiqih, karena ia meyakini bahwa peselisihan dalam
masalah-masalah furu’ merupakan keniscayaan, karena itu ia mengajak untuk
menyatukan kaum muslimin dalam ikatan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Islam.
- Spesifikasi
Gerakan Islam :
- Jauh
dari kekuasaan para penguasa dan politikus, walau di antara anggotanya ada
yang menjadi penguasa dan politikus.
- Memiliki
tahapan dalam dakwahnya. Imam Hasan Al-Banna, dalam Risalah
Ta’alim, menjelaskan bahwa dakwah ini memiliki tiga tahapan yaitu:
o Ta’rif dan bimbingan, pendirian lembaga-lembaga yang bermanfaat, serta sarana-sarana operasional lainnya.
o Tahapan Takwin menyaring unsur-unsur
yang baik untuk memikul beban-bedan jihad dan membentuk sinergi satu sama lain.
Aturan dakwah dalam tahapan ini adalah sufi murni dilihat dari aspek
spiritual dan militer murni dilihat dari aspek operasional. Pada tahapan ini
tidak ada yang berhubungan dengan dakwah selain orang yang memiliki kesiapan
sejati untuk memikul beban-beban jihad yang panjang dan banyak tanggungjawab.
Tanda-tanda pertama kesiapan adalah ketaatan yang penuh.
o Tahapan Tanfidz pada tahapan ini berupa jihad tanpa kompromi, aktivitas berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuan, serta ujian dan cobaan yang tidak mungkin mampu bersabar menghadapinya selain orang-orang yang tulus. Tidak ada yang menjamin kesuksesan dalam periode ini selain ketaatan yang penuh pula.
c. Mengutamakan aktivitas dan produktivitas ketimbang klaim dan propaganda.
o Tahapan Tanfidz pada tahapan ini berupa jihad tanpa kompromi, aktivitas berkesinambungan dalam rangka mencapai tujuan, serta ujian dan cobaan yang tidak mungkin mampu bersabar menghadapinya selain orang-orang yang tulus. Tidak ada yang menjamin kesuksesan dalam periode ini selain ketaatan yang penuh pula.
c. Mengutamakan aktivitas dan produktivitas ketimbang klaim dan propaganda.
d. Mengatur napas yang panjang.
e. Nyata dalam aktivitas, rahasia dalam
organisasi.
f. Uzlah kejiwaan, bukan fisik.
g. Tujuan tidak menghalalkan segala
cara.
- Perlengkapan
pergerakan Islam:
- Memiliki
keimanan yang kuat.
- Meyakini
jalan yang mereka tempuh, keistimewaan dan kebaikannya.
- Meyakini
persaudaraan serta hak-hak dan kesakralannya.
- Meyakini
agung dan besarnya pahala.
- Meyakini
akan diri sendiri.
Keempat: Saya harus mengetahui jalan perjuangan Islam
Imam Syahid Hasan Al-Banna, dalam
Majmu’atur Rasail , melukiskan potret pejuang Islam sebagai berikut: ”Wahai
para ikhwan, kalian bukanlah organisasi sosial, bukan partai politik, bukan
pula organisasi domestik yang memiliki keterbatasan tujuan. Tetapi
kalian adalah ruh baru yang mengalir di dalam hati sanubari umat ini, kemudian
dihidupkan oleh ALLAH dengan cahaya Al-Quran. Kalian adalah cahaya baru yang
bersinar terang, yang akan memorak-porandakan kegelapan hidup hedonistis dengan
makrifatullah. Ketahuilah, kalian adalah suara yang bergaung keras dengan
menggemakan seruan Rasulullah Saw”.
Kelima:
Saya harus mengetahui dimensi-dimensi afiliasi saya kepada pergerakan Islam
• Afiliasi dalam akidah. Hal ini merupakan dimensi pertama karena pergerakan ini menolak afiliasi ketokohan yang biasa terjadi pada kelompok-kelompok paternalistis yang dapat dianggap sebagai kuman yang akan menhancurkannya.
• Afiliasi dalam akidah. Hal ini merupakan dimensi pertama karena pergerakan ini menolak afiliasi ketokohan yang biasa terjadi pada kelompok-kelompok paternalistis yang dapat dianggap sebagai kuman yang akan menhancurkannya.
• Afiliasi dalam tujuan. Hendaklah
keaggotaannya merupakan keanggotaan dalam tujuan, dengan makna bahwa tujuan
anggota hendaklah terkait dengan tujuan jamah dalam kondisi apapun.
Keenam: Saya harus mengetahui poros-poros perjuangan Islam.
Tiga Poros Perjuangan Islam :
- Kejelasan
tujuan.
- Kejelasan
jalan.
- Komitmen
terhadap jalan Rasul Saw.
Ketujuh: Saya harus mengetahui persyaratan baiat dan keanggotaan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
adalah:
- Kualitas
bukan kuantitas.
- Baiat
dan hukumnya.
- Ketaatan
dan hukumnya.
- Rukun-Rukun
baiat. :
1.
Al Fahm (faham)
2.
Al Ikhlas (keikhlasan)
3.
Al Amal (bekerja, berjuang)
4.
Al Jihad (Jihad)
5.
At Tadlhiyyah (pengorbanan)
6.
At Tho’ah (ketaatan)
7.
Ats Tsabat (keteguhan)
8.
At Tajarrud (totalitas)
9.
Al Ukhuwwah (persaudaraan)
10.
Ats Tsiqoh (kepercayaan)
e.
Kewajiban-kewajiban muslim :
1.
Mengamalkan wirid harisn
2.
Mampu membaca Al-Qur’an dengan baik,
juga mendengarkan, dan merenungkan makna-maknanya.
3.
Mengontrol kesehatan
4.
Tidak berlebihan mengkonsumsi minuman
berkafein
5.
Peduli terhadap kebersihan
6.
Jujur dalam berbicara
7.
Menepati sumpah, janji, dan pernyataan.
8. Berani dan tabah
9. Tampil berwibawa dan selalu
sungguh-sungguh
10. Memiliki rasa malu yang kuat, peka,
cepat terkesan dengan kebaikan maupun kejelekan.
11. Adil
12.
Semangat tinggi dan melayani keperluan
orang banyak.
13.
Memiliki hati yang penuh kasih saying,
tebuka, dam lapang dada.
14. Pandai membaca dan menulis.
15. Memiliki profesi berorientasi profit.
16. Jangan mau menjadi pegawai negeri
17. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan
pekerjaan
18. Sanggup menuntu hakmu dengan baik dan
memenuhi hak orang lain
19. Menjauhi perjudian
20. Menghindari riba
21. Turut serta mengembangkan kekayaan
dunia Islam dengan mendukung produk dan sumber ekonomi Islam
22. Berzakat dan berinfak
23. Menabung
24. Menyemarakkan tradisi Islam
25. Memboikot mahkamah sipil dan
pengadilan yang tidak sesuai dengan syariat islam
26. Selalu merasa diawasi Allah
27. Bersuci dengan baik dan menjaganya
28. Melakukan shalat dengan baik
29.
Puasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan
haji
30.
Selalu menyertakan niat berjihad dan
mencintai mati syahid.
31.
Senantiasa bertaubat dan mohon ampun
kepada Allah.
32. Berjihad melawan nafsu
33. Menjauhi minuman keras
34.
Jangan berteman dengan orang yang suka
berbuat dosa dan maksiat
35.
Memberantas tempat hiburan yang tidak
sehat
36.
Kenali anggota katibahmu (kelompok) satu
per satu dengan baik
37.
Melepaskan hubungan dengan setiap
organisasi atau kelompok selama keberadaanmu di sana tidak memberi dampak
positif kepada fikrah, apalagi jika engkau disuruh untuk melepaskannya
38. Berusaha menyebarkan dakwah
-Ringkasan Buku KOMITMEN MUSLIM TERHADAP HARAKAH ISLAMIYYAH, Fathi Yakan-

Komentar
Posting Komentar